PERMEN TINGTING SANG PENYELAMAT
"Ting Ting bukan permen... ting ting bukan biskuit!" Iklan dari permen tingting itu benar-benar membuat aku terharu. Permen Tingting yang semula aku anggap tidak enak, ternyata malah menjadi petuah terbaik untuk hidupku. Permen Tingting memang sang penyelamat. Inilah kisah yang benar-benar jelas di hatiku, bahwa permen tingting adalah penyelamat!
Suatu hari, sekitar tahun 2005, aku beserta keluargaku menginap di rumah nenek Farida di daerah Puncak, Bogor. Sebelum berangkat ke Puncak, aku beserta mamahku berbelanja untuk kebutuhan perjalanan di Yogya Dept.Store. Setelah makanan sebangsa chiki, coklat, dan waffer, mamah tidak lupa mengunjungi counter permen. Biasanya, aku dan mamah membawa permen Alphenlibe rasa strawberry. Namun, kali ini tidak! Mamah malah membawa sebungkus permen dengan cover berwarna coklat. Oh tidak, itu PERMEN TINGTING! Aku sangat membenci permen tingting. Walau aku belum pernah sesekali mencobanya, tapi permen tingting itu tetap terlihat menjijikan. Saat mamah hendak membeli itu, aku langsung bertanya. "Mah, kenapa malah beli permen tingting? Biasanya kan beli permen alphenlibe?". Dengan senyum, mamah membalas pertanyaanku. "Memangnya kenapa? Lagian permen tingting ini enak, lho! Kamu belum pernah mencobanya,ya?". Apa, enak??? Cuih! Karena terlalu terkesan menjelekkan, jadi aku menjawab pertanyaan mamah dengan "Nggak mah, cuma nanya doang!" Padahal, dalam hatiku aku sudah benar-benar marah dan muak! Tapi, kupikir lagi. "Gak apa-apalah! Kan aku juga beli chiki Chitos sama Beng-Beng. Pasti bayangan muaknya permen tingting tidak akan ada! Haha!", ujarku dalam hati.
Usai berbelanja dari Yogya Dept.Store, kami langsung berangkat menuju Puncak. Hari itu mendung sekali. Tapi sebalnya, hujan tak kunjung turun. Jadi, sepanjang perjalanan Puncak, aku hanya terdiam karena melihat pemandangan ditutup oleh awan tebal dan gelap. Padahal, biasanya aku sangat riang karena melihat indahnya pegunungan dibalik awan yang cerah. Kali ini tidak! Bahkan, aku tak ikut bersenda gurau bersama kedua kakaku, Rio dan Natasya. Terdengar mereka begitu asyik bercanda, mentertawakan kejadian lucu yang pernah mereka alami. Namun, aku terdiam saja. Tak lama dari itu, tiba-tiba kepalaku oleng dan terjatuh. Aku akhirnya tidur. Tidak seperti biasanya karena biasanya setiap perjalanan ke Puncak aku tidak pernah tidur. Aku mulai berimajinasi dalam mimpiku yang terasa nyata. Aku serasa benar-benar ada di mobil saat perjalanan ke Puncak. Di situ, semua keluargaku terdiam sunyi. Setelah itu, tiba-tiba bagasi mobil terbuka. Wah! Semua belanjaan dan koper jatuh. Namun, hanya sebungkus permen tingting yang selamat dari bagasi itu. Aku berteriak "Dasar Tingting!" Lalu, semua keluargaku melihat ke belakang apa yang terjadi. Oh tidak, papah tidak melihat di depannya itu ada mobil truk. Aaaaaa!!!!! Aku akhirnya terbangun sambil berteriak. Semua keluargaku melihatku. Lalu, mamah bertanya "Kenapa dek?". Aku hanya menjawab "Mimpi buruk, mah!". Oh, ternyata kami sudah sampai di Kompleks Permata, rumah Nenek Farida. Kami mencari terus rumah berwarna merah jambu bernomor 26. Dan akhirnya aku sampai. Tak disangka, perjalanan ke Puncak begitu singkat sekali. Aku langsung turun dari mobil Avanza-ku, dan masuk ke rumah Nenek. Aku memencet tombol bel, dan ternyata Nenek Farida sendiri yang membuka pintu rumahnya. "Nenek!!!" dengan senang aku memeluk Nenek Farida. "Cucuku.", nenek menyahutku. Setelah semua koper dan jajanan diangkut ke rumah Nenek Farida, lantas kami duduk di ruang keluarga Nenek Farida yang sederhana. Papah memulai pembicaraan. "Mih, teu aya nanaon di dieu? Kumaha si aki, tos damang teu? (Mamih, gak ada apa-apa kan' di sini? Gimana bapak, udah sehat belum?). Nenek menjawab, "Alhamdulillah. Aki tos damang ti kamari. Ayeuna si aki keur ningalian heula motorkros di alun-alun. Antosan we, nya! (Alhamdulillah. Bapak udah sembuh dari kemaren. Sekarang bapak lagi ngeliat pertunjukkan motorcross di alun-alun/lapangan. Tunggu aja!)". Papah dan mamah terlihat ceria. Namun, kedua kakakku malah sibuk masing-masing. Kak Natasya terlihat sedang memasukkan baju-bajunya ke lemari kamar tamu. Sedangkan Kak Rio, langsung ke WC untuk BAB. "Wylma, gimana sekolahnya? Masih jadi juara 1", nenek bertanya kepadaku. Dengan senyum aku menjawab "Alhamdulillah, Nek, baik-baik aja. Seminggu yang lalu baru dibagi rapor UTS. Wylma seneng lho, Nek! Soalnya Wylma bisa jadi juara 1 lagi, terus nilainya beda jauh sama ranking 2, Iqbal. Wylma rata2 nilanya 94, si Iqbal 87. Jauh kan, Nek?". "Wah, hebat!" kata nenek. "Siapa dulu dong, cucu Nenek Farida!", sahutku. Papah, Mamah, dan Nenek tertawa. Beberapa saat kemudian, dari arah pintu terlihat seorang pria berbadan besar memasuki rumah. Aku langsung tahu siapa dia. "Kakek!!!!". Kakek terlihat senang saat aku memeluknya. "Euleuh eulueh, Wylma!", ucap kakek. Aku sangat senang sekali. Karena, beberapa hari yang lalu asma kakek kambuh lagi dan kata nenek cukup parah. Untung saja kakek segera dilarikan ke Puskesmas.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Kakek dan Nenek mengajak keluargaku untuk mengunjungi Taman Ria Desa. "Hayu ah!" kataku dalam hati. Kami sekeluarga pergi ke Taman Ria Desa. Wah, disana rame sekali, lho! Ingat ya, Taman Ria Desa adanya di kota lho, bukan di desa. Di sana, ada wahana-wahana klasik abis, kayak bianglala non-listrik, ayun putar, hahayaman, gujes-gujes ah (ini wahana paling seru lho!), dan tong motor. Selain wahana-wahana permainan, di sana juga ada bazaar-bazaar yang gak kalah heboh. Kulihat Kak Rio menikmati sekali wahana. Dia hingga 5x naik gujes-gujes ah. Sedangkan Kak Natasya terlihat sedang mencari pernak-pernik dan baju-baju di area bazaar. Papah dan Mamah juga tak kalah heboh melihat atraksi tong motor. Namun, aku memilih berjalan-jalan saja dengan kakek dan nenek. Kapan lagi aku bisa bergandengan tangan, menikmati sejuknya udara Puncak bersama kedua kakek-nenek tercintaku? Setelah berjalan-jalan, kami menikmati Bakso Gila Pak Engkus. Baksonya gila! Enak! Di meja tempat kami makan, aku dan nenek mengobrol. Beberapa menit kemudian, aku kaget sekali! Tiba-tiba kakek sesak. "Astagfirullah, asma aki kambuh deui. Tulung!", nenek terlihat ketakutan. Apa? Tidak!!! Kakek bisa mati bila tidak ditolong. Apalagi, tempat makan kami cukup jauh dari keramaian. "Wylma, burukeun geura telepon bapa!". Aku langsung mengerti harus apa. Aku harus menelepon papah. Oh tidak! Aku lupa membawa HP Nokia N70-ku. Bagaimana ini? Aku ketakutan sekali. Nenek terlihat menangis. Aku juga sedih. Bila kakek tidak ditolong, dia bisa mati. "Nenek!", teriakku saat nenek pingsan. Aku langsung menjerit. Sepertinya tak ada yang mendengar. Lalu, aku buka tas gandeng kecilku. Aku mengobrak-abrik, siapa tahu aku membawa obat. Setelah kukeluarkan semua benda-itu, aku melihat sebuah permen tingting. Dalam hatiku marah, tapi hatiku langsung berbicara. "Permen Tingting mungkin bisa meredakan asma kakek!" Lalu, aku membuka kemasan permen tingting. Dan aku bilang pada kakek. "Kunyah, Kek! Atau telan saja!" Kakek menelan permen tingting itu. Lalu kuberi kakek minum air putih. Syukur Alhamdulillah, kakek selamat. Aku sangat terharu sekali! Sesaat setelah itu, kakek langsung mencoba menyadarkan nenek. "Geura hudang! (Cepat! Bangun!)". Alhamdulillah, nenek langsung terbangun. Nenek langsung memeluk kakek. Setelah itu, nenek berterima kasih kepadaku. "Makasih Wylma. Nenek gak tahu kalau gak ada kamu!". Aku menjawabnya dengan senyum, "Nenek bukan harus berterima kasih kepadaku, melainkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang masih memberikan umur kepada kakek. Nenek juga berterimakasihlah kepada permen tingting!". Setelah bertemu dengan papah, mamah, kak Natasya dan kak Rio, aku menceritakan semuanya kepada papah dan mamah. Mamah hampir saja menangis.
Ternyata, dibalik kebencian terhadap sesuatu, sesuatu itu ada manfaatnya. Buktinya, kalau saja tidak ada permen tingting di kantongku, mungkin nyawa kakek tak terselamatkan. Alhamdulillah! Terima Kasih Permen Tingting! I always say thanks to you!
Story by : F i S a ( 7 g )
ramekah kisah ini?
Jumat, 13 Februari 2009
Kamis, 12 Februari 2009
Cermisbung (Cerita Misteri Bersambung)
DENDAM NYI LEMAK (Part 2)
Bukan!!! Aku tak mati!!! Alhamdulillah, Ya Allah! Aku selamat dari ajal-Mu. Nenek-nenek itu tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari tanganku. Dia berbalik arah/berpaling dari wajahku. Aku yang masih takut hanya terdiam. Di otakku yang sangat dalam aku berpikir. "Allah mungkin telah menyelamatkan hidupku!" Tapi, aku tak tahu. Dia sepertinya pergi bukan karena itu.
Dengan ragu-ragu, aku bertanya kepada nenek itu. "Nek, nenek mau kemana? Bukannya mau membunuhku, Nek?". Nenek itu tidak menjawab juga. Aku bertanya hingga 3x, akhirnya nenek itu menjawab. "Nenek tidak mau membunuhmu!". Apa, tidak mau membunuhku! Aku tak yakin. Lalu aku bertanya. "Lalu, kenapa nenek tadi mencengkeram bahuku dengan begitu keras hingga keluar darah dari tubuhku!". Nenek itu menjawab, "Nenek hanya mau latihan!". Latihan??? Latihan apa??? Latihan membunuh???
Lantas, aku bertanya lagi. "Latihan apa?". Nenek itu terdiam dan menjawab. "Nenek mau SUMO!!! Lihat ini kaki nenek!". Nenek itu menunjukkan lutut kakinya. Oh My God!!! Terdapat lemak yang menonjol di lututnya. Lalu, tiba-tiba dia menghilang. Aku ketakutan setengah mati! Inikah Dendam Nyai Lemak?
(THE END)...
Story by : FISA (7g)
Garing ya?
Thnx to Hilmi, buat ne"nya yg mau dijadikan latar cerita. he3x....
Bukan!!! Aku tak mati!!! Alhamdulillah, Ya Allah! Aku selamat dari ajal-Mu. Nenek-nenek itu tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari tanganku. Dia berbalik arah/berpaling dari wajahku. Aku yang masih takut hanya terdiam. Di otakku yang sangat dalam aku berpikir. "Allah mungkin telah menyelamatkan hidupku!" Tapi, aku tak tahu. Dia sepertinya pergi bukan karena itu.
Dengan ragu-ragu, aku bertanya kepada nenek itu. "Nek, nenek mau kemana? Bukannya mau membunuhku, Nek?". Nenek itu tidak menjawab juga. Aku bertanya hingga 3x, akhirnya nenek itu menjawab. "Nenek tidak mau membunuhmu!". Apa, tidak mau membunuhku! Aku tak yakin. Lalu aku bertanya. "Lalu, kenapa nenek tadi mencengkeram bahuku dengan begitu keras hingga keluar darah dari tubuhku!". Nenek itu menjawab, "Nenek hanya mau latihan!". Latihan??? Latihan apa??? Latihan membunuh???
Lantas, aku bertanya lagi. "Latihan apa?". Nenek itu terdiam dan menjawab. "Nenek mau SUMO!!! Lihat ini kaki nenek!". Nenek itu menunjukkan lutut kakinya. Oh My God!!! Terdapat lemak yang menonjol di lututnya. Lalu, tiba-tiba dia menghilang. Aku ketakutan setengah mati! Inikah Dendam Nyai Lemak?
(THE END)...
Story by : FISA (7g)
Garing ya?
Thnx to Hilmi, buat ne"nya yg mau dijadikan latar cerita. he3x....
Langganan:
Postingan (Atom)