Sabtu, 31 Januari 2009

Cermisbung (Cerita Misteri Bersambung)

DENDAM NYI LEMAK ( Part 1 )

Hari itu, aku di baru pulang sekolah, saat tiba-tiba handphone-ku yang bermerk Nokia klasikku berdering. "Mama meninggal, Ra!". Suara itu suara yang kukenal. Aku tahu itu suara Teteh Lara. Namun, aku masih menganehkan omongan itu. "Jangan bercanda, Teh!", jawabku. "Aku gak bercanda. Kamu harus pulang segera!". Aku masih tak percaya ini. Mamaku yang masih muda dan energik itu harus dipanggil ke Rahmatullah. Ini sama sekali tidak mungkin.

Di perjalanan menuju rumah, langkahku kupercepat seperti biasanya. Aku masih penasaran benarkah Mamaku yang baru berusia 32 tahun itu meninggal dengan begitu cepat? Tak terasa, aku sampai pada sebuah gank (bacanya gang ya! bukan geng). Ku berjalan hingga ke depan rumah bernomor 27 yang pagarnya warna biru. Di sana, kulihat Papa, Teh Lara dan keluargaku menangis dan begitu kencang. Aku mendekati sebuah jasad. Kuperjelas penglihatanku. Tak mungkin! Mamaku meninggal. Tak kuasa aku menahan air mata, dan mungkin bisa saja air mataku itu berember-ember. Aku tak bisa berhenti menangis. Mamaku yang baik dan hingga hari ini baik-baik saja tiba-tiba tiada. Ini tak mungkin. Tiba-tiba, di bahuku terasa ada yang menepuk. Ternyata itu Papah.

"Sudahlah, Amara. Ikhlaskan saja Mamahmu itu.", kata Papah dengan bijaksana. Namun, aku masih tak kuasa menahan air mata. Lalu, aku tahan air mata, dan bertanya pada Papah. "Kenapa Mamah meninggal, Pah?". Papah tiba-tiba terdiam begitu lama. Aku menunggu jawaban Papah. Dan akhirnya, Papah menjawab. "Mamah meninggal di kamarnya dengan alasan yang tak jelas. Di kamarnya itu, terdapat sesaji yang kita pemanggilan roh untuk kecantikan." Apa??? Tidak mungkin! Mamaku menggunakan dunia magis untuk kecantikannya. Sama sekali tak masuk akal.

Sore, pukul 3. Setelah mamaku disolatkan, kami mengantarkannya ke Taman Pemakaman Keluarga di daerah Dago Pakar. Saat tanah digali, Teh Lara tak kuasa menangis begitu kencang. Aku pun tak kuasa membendung air mata. Namun, harus kurelakan kepergian Mamah ini, meskipun dengan alasan yang tak jelas. Setelah kami mendoakan, sekitar pukul setengah lima sore kami berniat meninggalkan tempat terakhir Mamah itu. Aku berjalan paling belakang, dengan Papah memimpin di depan, Kakek Otjo dan Nenek Mumu di belakangnya, dan Teh Lara tepat di depanku. Namun, tiba-tiba langkahku terhenti. Entah kenapa, aku tak dapat menggerakan kakiku. Aku meminta tolong keluargaku di depan, namun aku tidak bisa bicara. Aku seakan terhenti. Detak jantungku seakan melambat. Denyut nadiku seakan tak terasa lagi. Serasa nyawa sudah hampir dicabut. Dalam keadaan itu, tiba-tiba ada tepukan di bahuku. Aku mencoba menoleh ke belakang dengan berjuang keras.

Saat kutoleh ke belakang, kulihat wanita tua, dengan wajahnya yang putih pucat, dan disilet-silet. Aku ketakutan setengah mati. Mungkinkah dia mati. Tiba-tiba, dia berkata. "Kau selanjutnya!". Aku? Selanjutnya untuk apa? Apakah untuk mati? Tidak... ini tidak mungkin terjadi. Saat itu, cengkeraman tanggannya di bahuku semakin keras. Saat aku berjuang menahan rasa sakit, darah bercucuran. Inikah akhir hidupku?

To be Continued ...
Story by : Fisa

---------------------------------------------------------------------------------------

Ramekah kisah ini? VOTE FOR ME NOW!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar